RSS

Sakata Gintoki

In our own lives, we aren’t the readers… We are the writers!

I’ve never once fought for the sake of this cheap country. I don’t care if this country or samurai fell, because i have always, then and now, for what i protect, has never changed.

Don’t be stupid! Stand up! If you’ve got enough time to fantasize about your beautiful death, why don’t you live your beautiful life to the end?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2011 in Animanga!, Japan!, Quote!

 

Gintama

Samurai no kuni, Edo. Pada suatu masa, kota Edo dikuasai pendatang dari luar angkasa yang disebut AmantoTanah dikuasai dan para samurai dilarang menggunakan pedang lagi. Untuk bertahan hidup, Shimura Shinpachi yang dididik ayahnya menjadi samurai terpaksa bekerja di kedai minuman. Suatu hari Shinpachi yang dikerjai oleh bos dan pengunjung kedainya, dibela oleh Sakata Gintoki. Tapi karena ulah cowok itu pula Shinpachi dituduh sebagai pembunuh tamu kedai. Shinpachi segera mengejar Gintoki, tapi yang dikejar cuek saja. Untung kakak perempuan Shinpachi yang bernama Otae berhasil menahan Gintoki.

Ketika diinterogasi di dojo milik Shinpachi, Gintoki mengaku sebagai Yorozuya [freelancer] yang bekerja melakukan apa saja. Tiba-tiba datang penagih hutang menagih hutang almarhum ayah Shinpachi. Karena tidak sanggup membayar, si penagih memberikan 2 pilihan: menyerahkan dojo atau kakak Shinpachi menjadi wanita penghibur. Berbeda dengan Shinpachi yang membenci ayahnya, Otae sangat menyayangi peninggalan sang ayah. Maka ia memilih menjadi wanita penghibur. Melihat Shinpachi yang sedih, Gintoki membantu cowok itu menyelamatkan Otae sekaligus menghancurkan bisnis hiburan si penagih hutang. Semenjak saat itu, Shinpachi bergabung dengan Gintoki menjadi Yorozuya. Anggota ketiga dalam Yorozuya adalah Yato Kagura yang mereka tolong dari kejaran orang-orang yang menginginkan kekuatan keturunan keluarga Yato.

Suatu hari mereka mendapat tugas mengantar barang ke kedutaan planet Inu. Ternyata barang yang mereka antar itu adalah sebuah bom. Nyaris saja mereka tertangkap oleh petugas keamanan kedutaan, kalau tidak ditolong oleh Katsura Kotarou. Karena kejadian itu, mereka bertiga dicap sebagai teroris. Kasus bom tersebut merupakan rencana seseorang yang bernama Joui untuk menarik Gintoki masuk ke dalam kelompoknya yang bertujuan untuk membangun Samurai no Kuni dan mengusir Amanto. Ternyata Gintoki adalah Shiro Yasha yang beberapa tahun lalu berperan besar dalam perang melawan Amanto.

Gintoki tidak berniat berperang bersama Joui karena ia mempunyai prinsip sendiri mengenai cara berperang dan siapa yang ingin ia lindungi. Sanggupkan Gintoki bertahan pada prinsipnya karena Joui tetap menginginkannya dan ia sekarang menjadi target kejaran utama Shinsengumi?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2011 in Animanga!, Japan!

 

Geisha

Apa itu geisha? Sebagian besar orang tentu langsung membayangkan sosok wanita Jepang ber-kimono lengkap dengan dandanan putih tebal dan rambut palsunya. Geisha sering disalahartikan banyak orang sebagai wanita penghibur atau yang berkaitan dengan prostitusi. Padahal, arti geisha sebenarnya adalah “seniman” atau “artis”, yang berasal dari huruf kanji gei [seni] dan sha [orang]. Imej geisha tidak terlepas dari kimono yang rumit, sanggul palsu lengkap dengan hiasan daun icho dan kanzashi [jepit rambut], serta make-up tebal berwarna putih dan pemulas bibir warna merah. karena riasan wajahnya yang putih itu, sekitar abad ke-13 pada zaman Kamakura, geisha pernah dikenal dengan istilah shirabyoshi. Geisha yang sudah ada sejak zaman dulu punya sejarah panjang.

Pada awalnya istilah geisha sebenarnya hanya ditujukan untuk para pria yang menjadi houkan [pelawak di istana kaisar]. Setelah ada wanita yang berpartisipasi, barulah muncul istilah onna geisha [geisha wanita] yang selanjutnya disebut sebagai geisha seperti sekarang ini. Dulu orang yang menjadi geisha umumnya anak yaitim-piatu atau berasal dari keluarga tidak mampu yang dibeli oleh ochaya [kedai teh]. Sejak masih kecil mereka dididik oleh okamisan [istilah ‘mama’ yang mengelola ochaya] untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan lama kelamaan diangkat menjadi asisten geisha senior. Selama masa training, mereka ditempatkan dan dipekerjakan di rumah seorang seniman sebagai pelayan rumah tangga. Lamanya training ini bisa mencapai beberapa tahun hingga mereka bisa menjadi seorang geisha. Selama bekerja di sanalah mereka mempelajari apa yang dikerjakan si seniman, yang dijadikan bekal pengetahuan untuk mereka kelak.

Lain halnya dengan dulu, geisha di zaman modern ini tidak lagi berasal dari keluarga miskin atau yatim-piatu. Siapapun bisa menjadi geisha, namun yang pasti mereka dituntut untuk menguasai berbagai bidang kesenian Jepang tradisional, mulai dari ikebana [seni merangkai bunga], chanoyu [upacara minum teh], menari tarian tradisional, kaligrafi, membuat puisi, bermain alat musik tradisional shamisen [sejenis banjo bersenar tiga] kodaiko [drum kecil yang dimainkan menggunakan stik kayu], hingga mempelajari bahasa Inggris. Di Kyoto, anak gadis yang magang untuk menjadi geisha dikenal dengan sebutan maiko. Biasanya usia maiko berkisar antara 15-20 tahun. Para maiko ini di-training untuk menemani geisha  senior melayani tamunya di kedai teh atau undangan pesta hanya sekedar menyajikan minuman, mengobrol dengan tamu, dan tampil menunjukkan kemampuan seninya, yaitu tachikata dan jikata. Tachikata yang menampilkan tarian tradisional Jepang biasanya dilakukan oleh para maiko, sedangkan jikata kebanyakan dilakukan oleh geisha senior dengan menampilkan nyanyian atau permainan musik tradisional. Setelah berusia 20 tahun, para maiko harus memutuskan apakah mereka akan menjadi geisha atau tidak. Apabila kelak mereka menikah, mereka tidak boleh lagi menjadi geisha. Harga yang dibayar untuk menyewa geisha cukup mahal, dan tidak sembarang orang bisa menyewa geisha, kecuali orang yang punya relasi dekat dengan okamisan. Satu hal yang perlu diketahui, para geisha tidak menyajikan makanan, membicarakan hal-hal lain di luar pesta, apalagi bekerja one-night stand untuk tamunya.

Sekarang ini jumlah geisha di Jepang semakin menurun drastis. Kalau pada tahun 1920-an jumlah geisha di Jepang mencapai 80 ribu orang, sekarang ini jumlahnya kurang dari 10 ribu orang. Di samping masuknya budaya barat, penyebab lainnya adalah berkurangnya orang yang tertarik menjadi geisha karena harus mengikuti proses training yang memakan waktu lama dan detail. Selain itu mahalnya harga sewa geisha membuat orang-orang memilih alternatif hiburan lain pada pesta mereka. Walau sudah langka, para geisha modern masih bisa ditemukan di distrik Kyoto dan Tokyo. Demikian juga dengan maiko yang banyak ditemukan di distrik Kyoto, seperti Gion dan Pontocho; dan distrik Higashi di Kanazawa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2011 in Japan!, Japanese Culture

 

Bunraku

Sama seperti halnya kesenian tradisional wayang golek yang mulai ditinggalkan kaum muda, kesenian bunraku di Jepang pun sedang berusaha keras agar tak hilang tergerus zaman. Defenisi bunraku sendiri adalah sandiwara boneka tradisional yang berasal dari Jepang. Bunraku pertama kali diperkenalkan di Osaka pada tahun 1684. Kesenian ini kadang juga disebut dengan ningyou joururi. Ningyou adalah boneka, sedangkan joururi adalah narasi yang dibawakan dengan cara dinyanyikan dan diiringi petikan shamisen. Kesenian ini sebelumnya disebut dengan nama ayatsuri joururi shibai [sandiwara joururi ayatsuri] dan akhirnya dinamakan bunraku di akhir zaman Meiji. Nama bunraku sendiri diambil dari nama seniman Uemura Bunrakuken I, seorang penggiat kesenian ningyou joururi yang berasal dari Osaka.

SEJARAH

Kesenian ningyou joururi tercipta dari perpaduan sandiwara boneka dan musik shamisen pada awal zaman Edo. Pertunjukan ini awalnya tercipta atas kreasi Takemoto Gidayu, seorang tayuu dengan naskah yang dibuat oleh Chikamatsu Monzaemon dan Ki No Kaion. Geliat ningyou joururi pada kala itu bahkan mampu mengalahkan kepopuleran kabuki; sehingga pementasan kabuki akhirnya banyak memakai naskah cerita ningyou joururi. Namun di awal abad 19 keadaan berbalik, sehingga pemimpin kelompok ningyou joururi yang bernama Uemura Bunrakuken I berupaya memutar otak untuk menghidupkan kembali kesenian ini dengan cara mendirikan sebuah gedung pertunjukan khusus ningyou joururi di Kouzubashi [sekarang Osaka] dan kemudian dipindahkan ke Matsushima oleh Uemura Bunrakuken III. Nama gedung pertunjukan tersebut juga diubah menjadi buranku-za [teater bunraku]. Lokasi bunraku-za terus berpindah-pindah dan sempat terbakar saat perang dunia II. Sekitar tahun 1948, perusahaan hiburan yang mengelola bunraku-za, Shochiku berselisih dengan serikat pekerja bunraku; kesenian bunraku pun mengalami kemunduran.

Masalah ini baru terselesaikan pada tahun 1963. Nama bunraku-za diganti menjadi Asahi-za, dan posisi Shochiku sebagai pelindung kesenian bunraku digantikan oleh organisasi nirlaba Bunraku Kyoukai yang disponsori Perfektur Osaka, kota Osaka, Departemen Pendidikan Jepang dan NHK. Selain itu, untuk mengatasi masalah regenerasi di dunia bunraku pada tahun 1973 diambillah kebijakan baru dimana masyarakat awam pun diperbolehkan untuk mempelajari kesenian ini, bahkan telah meluas pula hingga ke luar negeri seperti Eropa dan Amerika.

SANGYOU

Sangyou adalah 3 elemen penting yang membentuk pertunjukan bunraku utuh, yaitu tayuu [penembang], pemain shamisen, dan ningyoutsukai [dalang boneka]. Ketiga elemen ini diperankan oleh laki-laki. Tayuu dan pemain shamisen adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di awal karirnya, mereka harus mampu membangun ikatan emosi yang kuat, yaitu dengan berlatih, tampil bahkan hidup bersama untuk menciptakan sebuah harmonisasi. Bahkan bila salah satu diantara keduanya ada yang meninggal atau mengundurkan diri, maka partnernya juga harus mengundurkan diri. Tayuu bertugas membawakan dialog semua karakter dalam cerita, namun dalam pementasan yang panjang terkadang ada pergantian tayuu. Untuk dialong yang bersahut-sahutan beberapa tayuu bisa tampil sekaligus. Shamisen yang dimainkan dalam pertunjukan bunraku bukanlah shamisen biasa, melainkan shamisen berukuran besar dengan nada yang lebih rendah dan bulat yaitu futozao. Sebuah boneka yang digunakan dalam bunraku biasanya dimainkan oleh 3 orang ningyoutsukai sekaligus. Boneka ini memang istimewa, karena seperti hidup; dengan tangan, kaki, dan jari-jari yang diberi sendi-sendi juga ekspresi wajah yang bisa berubah-ubah. Dalang senior yang disebut Omozukai bertugas menggerakkan bagian leher dan tangan kanan boneka, sedangkan hidarizukai bertugas menggerakkan tangan kiri boneka. Sementara itu bagian kaki digerakkan oleh dalang junior yang disebut ashizukai. Konon ada aturan yang menyebutkan bahwa untuk menjadi seorang omozukai dibutuhkan 10 tahun pengalaman sebagai ashizukai dan 10 tahun pengalaman sebgaai hidarizukai. dalang hanya bertugas menggerakkan boneka karena dialog ditembangkan oleh tayuu, selain mereka juga tidak bersembunyi dari pandangan penonton, melainkan memakai pakaian khusus berwarna hitam-hitam [kuroko] lengkap dengan penutup wajah agar tak mencolok. Namun ada pula yang disebut dengan teknik dezukai yaitu omozukai tampil tanpa penutup wajah.

NINGYOU

Kepala boneka yang digunakan dalam bunraku ada bermacam macam: laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, dengan berbagai macam karakter, pekerjaan dan status sosial. Sebagian kepala boneka tersebut ada yang mampu berganti peran secara fleksibel hanya dengan mengganti wig yang dikenakannya. Wig yang terbuat dari rambut manusia yang dicampur bulu binatang tersebut direkatkan ke bagian kepala dengan perekat yang terbuat dari air dan lilin lebah agar mudah dilepas. Badan boneka pun dipakaikan pakaian yang sesuai dengan peran yang akan dimainkan. Bila akan memainkan peran wanita bangsawan, maka boneka tersebut didandani dengan kimono lengkap mulai dari jubon [pakaian dalam], uchikake [mantel], haori [mantel luar], dan obi yang semarak. Berikut adalah beberapa jenis kepala boneka yang digunakan dalam bunraku:

Boneka Laki-Laki:

Bunshichi: laki-laki tampan namun menderita, tokoh utama kisah tragedi.

Darasuke: kepala boneka dengan mimik mengejek untuk peran orang jahat.

Matahei: kepala boneka dengan mimik rakyat biasa yang jujur.

Boneka Perempuan:

Musume: kepala boneka remaja usia 14-15 tahun yang innocent.

Keisei: kepala boneka untuk peran wanita penghibur.

Ofuku: kepala boneka untuk wanita berwajah bulat dengan peran komikal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2011 in Japan!, Japanese Culture

 

Bob Marley

“You may not be her first, her last, or her only. She loved before she may love again. But if she loves you now, what else matters? She’s not perfect – you aren’t either, and the two of you may never be perfect together but if she can make you laugh, cause you to think twice, and admit to being human and making mistakes, hold onto her and give her the most you can. She may not be thinking about you every second of the day, but she will give you a part of her that she knows you can break – her heart. So don’t hurt her, don’t change her, don’t analyze and don’t expect more than she can give. Smile when she makes you happy, let her know when she makes you mad, and miss her when she’s not there.”

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2011 in Quote!

 

7 Principle About Coffee!

Principle 1 – Reheating Causes Bitterness
a. About Coffee: Coffee should not be reheated. Every time you brew a cup, it needs to be fresh. Make only as much as you plan to drink.
b. About Life: Don’t rehash the past. Your past is the reason, not the excuse. Let go of what is gone.

Principle 2 – Start with Fresh Grounds
a. About Coffee: Do not reuse grounds. You’ll only end up with bitter and unpleasant tastes.
b. About Life: Learn from your mistakes, don’t repeat them.

Principle 3 – Use the Correct Grind
a. About Coffee: Use the correct grind for your coffee maker. If you grind too fine, this will cause bitterness. If your grind is too coarse, the coffee will be watery.
b. About Life: Put right what you can, and accept what you cannot.

Principle 4 – Use High-Quality Beans and Fresh, Pure, Cold Water
a. About Coffee: Use fresh cold water. Water is around 98 percent of every cup; to ensure you get the finest taste, consider using a water filter or bottled water. Choose top-quality beans. For your cup of coffee to be top quality you need to make sure you get the main ingredient right.
b. About Life: Celebrate your uniqueness.

Principle 5 – Get the Proportions Right
a. About Coffee: The proportion of coffee to water is vital. Experts recommend using tablespoons (10 grams) of ground coffee for each 6 fluid ounces (180 ml) of water. Regardless of how much coffee you make, you need to keep these proportions consistent. Proportions can be adjusted according to taste, but using less coffee makes for a thin, bitter-tasting brew.
b. About Life: Challenge irrational thinking.

Principle 6 – Boiling Destroys the Flavor
a. About Coffee: Boiling causes bitterness, so never boil coffee. It should be brewed between 195°F and 205°F (90°C-96°C).
b. About Life: Check your stress levels. Balance your body, mind, and spirit.

Principle 7 – Drink It While It’s Hot
a. About Coffee: Drink you coffee soon after it is made. Coffee can be kept warm for only about fifteen minutes over a burner before the flavor becomes unpleasant.
b. About Life: Live in the present with an attitude of positive expectancy.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 27, 2011 in Drinks!, Quote!